Penulis Topik: kewajiban berjilbab  (Dibaca 29858 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
kewajiban berjilbab
« pada: September 02, 2006, 09:26:53 pm »
Kewajiban Berjilbab
(Tafsir QS al-Ahzab [33]: 59)

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.
 
 
Sabab Nuzul
Dikemukakan Said bin Manshur, Saad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: Dulu istri-istri Rasulullah saw. keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab, "Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja." Lalu turunlah ayat ini yang berisi perintah agar mereka berpakaian tertutup supaya berbeda dengan hamba sahaya.1
 
Tafsir Ayat
Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ an-Nabiyy qul li azwâjika wa banâtika wa nisâ' al-Mu'mînîn (Hai Nabi, katakanah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin). Khithâb (seruan) ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw.

 
Allah Swt. memerintahkan Nabi saw. untuk menyampaikan suatu ketentuan bagi para Muslimah. Ketentuan yang dibebankan kepada para wanita Mukmin itu adalah: yudnîna 'alayhinna min jalâbîbihinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka).

 
Kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ' (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah.2 Al-Qasimi menggambarkan, ar-ridâ' itu seperti as-sirdâb (terowongan).3 Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-'Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.4 Ada juga yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya.5 Sebagian lainnya memahaminya sebagai mulâ'ah (baju kurung) yang menutupi wanita6 atau al-qamîsh (baju gamis).7

 
Meskipun berbeda-beda, menurut al-Baqai, semua makna yang dimaksud itu tidak salah.8 Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu 'Athiyah ra.:
 
Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?" Rasulullah saw. menjawab, "Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya." (HR Muslim).


Hadis ini, di samping, menunjukkan kewajiban wanita untuk mengenakan jilbab ketika hendak keluar rumah, juga memberikan pengertian jilbab; bahwa yang dimaksud dengan jilbab bukanlah pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan dalam rumah. Sebab, jika disebutkan ada seorang wanita yang tidak memiliki jilbab, tidak mungkin wanita itu tidak memiliki pakaian yang biasa dikenakan dalam rumah. Tentu ia sudah memiliki pakaian, tetapi pakaiannya itu tidak terkategori sebagai jilbab.

 
Kata yudnîna merupakan bentuk mudhâri' dari kata adnâ. Kata adnâ berasal dari kata danâ yang berarti bawah, rendah, atau dekat. Dengan demikian, kata yudnîna bisa diartikan yurkhîna (mengulurkan ke bawah).9 Meskipun kalimat ini berbentuk khabar (berita), ia mengandung makna perintah; bisa pula sebagai jawaban atas perintah sebelumnya.10

Berkaitan dengan gambaran yudnîna 'alayhinna, terdapat perbedaan pendapat di antara para mufassir. Menurut sebagian mufassir, idnâ' al-jilbâb (mengulurkan jilbab) adalah dengan menutupkan jilbab pada kepala dan wajahnya sehingga tidak tampak darinya kecuali hanya satu mata. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Sirrin, Abidah as-Salmani,11 dan as-Sudi.12 Demikian juga dengan al-Jazairi, an-Nasafi, dan al-Baidhawi.13

 
Sebagian lainnya yang menyatakan, jilbab itu diikatkan di atas dahi kemudian ditutupkan pada hidung. Sekalipun kedua matanya terlihat, jilbab itu menutupi dada dan sebagian besar wajahnya. Demikian pendapat Ibnu Abbas dalam riwayat lain dan Qatadah.14Adapun menurut al-Hasan, jilbab itu menutupi separuh wajahnya.15

 
Ada pula yang berpendapat, wajah tidak termasuk bagian yang ditutup dengan jilbab. Menurut Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya, 16 sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung)17 yang juga diwajibkan (QS an-Nur [24]: 31).

 
Pendapat ini diperkuat dengan hadis Jabir ra. Jabir ra. menceritakan: Dia pernah menghadiri shalat Id bersama Rasulullah saw. Setelah shalat usai, Beliau lewat di depan para wanita. Beliau pun memberikan nasihat dan mengingatkan mereka. Di situ Beliau bersabda, "Bersedakahlah karena kebanyakan dari kalian adalah kayu bakar neraka." Lalu seorang wanita yang duduk di tengah-tengah wanita kaum wanita yang kedua pipinya kehitam-hitaman (saf'â al-khaddayn) bertanya, "Mengapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena kalian banyak mengadu dan ingkar kepada suami." (HR Muslim dan Ahmad).

 
Deskripsi Jabir ra. bahwa kedua pipi wanita yang bertanya kepada Rasulullah saw. kedua pipinya kehitam-hitaman menunjukkan wajah wanita itu tidak tertutup. Jika hadis ini dikaitkan dengan hadis Ummu Athiyah yang mewajibkan wanita mengenakan jilbab saat hendak mengikuti shalat Id, berarti jilbab yang wajib dikenakan itu tidak harus menutup wajah. Sebab, jika pakaian wanita itu bukan jilbab atau penggunaannya tidak benar, tentulah Rasulullah saw. akan menegur wanita itu dan melarangnya mengikuti shalat Id. Di samping hadis ini, terdapat banyak riwayat yang menceritakan adanya para wanita yang membuka wajahnya dalam kehidupan umum.

 
Penafsiran ini juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS an-Nur (24) ayat 31: Wa lâ yubdîna zînatahunna illâ mâ zhahara minhâ (dan janganlah mereka menampakkan kecuali yang biasa tampak daripadanya). Menurut Ibnu Abbas, yang biasa tampak adalah wajah dan dua telapak tangan. Ini adalah pendapat yang masyhur menurut jumhur ulama.18Pendapat yang sama juga dikemukakan Ibnu Umar, Atha', Ikrimah, Said bin Jubair, Abu asy-Sya'tsa', adh-Dhuhak, Ibrahim an-Nakhai,19 dan al-Auza'i.20 Demikian juga pendapat ath-Thabari, al-Jashash, dan Ibnu al-'Arabi.21

 
Meskipun ada perbedaan pendapat tentang wajah dan telapak tangan, para mufassir sepakat bahwa jilbab yang dikenakan itu harus bisa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk di dalamnya telapak kaki. Hal ini didasarkan pada Hadis Nabi saw.:
 
"Siapa saja yang menyeret bajunya lantaran angkuh, Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat." Ummu Salamah bertanya, "Lalu bagaimana dengan ujung-ujung pakaian kami?" Beliau menjawab, "Turunkanlah satu jengkal." Ummu Salamah bertanya lagi, "Kalau begitu, telapak kakinya tersingkap." Lalu Rasulullah saw. bersabda lagi, "Turunkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu." (HR at-Tirmidzi).


Berdasarkan hadis ini, jilbab yang diulurkan dari atas hingga bawah harus bisa menutupi dua telapak kaki wanita. Dalam hal ini, para wanita tidak perlu takut jilbabnya menjadi najis jika terkena tanah yang najis. Sebab, jika itu terjadi, tanah yang dilewati berikutnya akan mensucikannya. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu al-Walad Abdurrahman bin Auf; ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah ra. tentang ujung pakainnya yang panjang dan digunakan berjalan di tempat yang kotor. Ummu Salamah menjawab bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Yuthahhiruhu mâ ba'dahu (Itu disucikan oleh apa yang sesudahnya).

 
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Dzâlika adnâ an yu'rafna falâ yu'dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu). Maksud kata dzâlika adalah ketentuan pemakaian jilbab bagi wanita, sedangkan adnâ berarti aqrab (lebih dekat).22 Yang dimaksud dengan lebih mudah dikenal itu bukan dalam hal siapanya, namun apa statusnya. Dengan jilbab, seorang wanita merdeka lebih mudah dikenali dan dibedakan dengan budak.23 Karena diketahui sebagai wanita merdeka, mereka pun tidak diganggu dan disakiti.

 
Patut dicatat, hal itu bukanlah 'illat (sebab disyariatkannya hukum) bagi kewajiban jilbab yang berimplikasi pada terjadinya perubahan hukum jika illat-nya tidak ada. Itu hanyalah hikmah (hasil yang didapat dari penerapan hukum). Artinya, kewajiban berjilbab, baik bisa membuat wanita Mukmin lebih dikenal atau tidak, tidaklah berubah.

 
Ayat ini ditutup dengan ungkapan yang amat menenteramkan hati: Wa kâna Allâh Ghafûra Rahîma (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bertobat kepada-Nya jika telah terlanjur melakukan perbuatan dosa dan tidak menaati aturan-Nya.
 
 
Mendatangkan Kebaikan

 
Ayat ini secara jelas memberikan ketentuan tentang pakaian yang wajib dikenakan wanita Muslimah. Pakaian tersebut adalah jilbab yang menutup seluruh tubuhnya. Bagi para wanita, mereka tak boleh merasa diperlakukan diskriminatif sebagaimana kerap diteriakkan oleh pengajur feminisme. Faktanya, memang terdapat perbedaan mencolok antara tubuh wanita dan tubuh laki-laki. Oleh karenanya, wajar jika ketentuan terhadapnya pun berbeda. Keadilan tak selalu harus sama. Jika memang faktanya memang berbeda, solusi terhadapnya pun juga tak harus sama.

 
Penggunaan jilbab dalam kehidupan umum akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan tubuh yang tertutup jilbab, kehadiran wanita jelas tidak akan membangkitkan birahi lawan jenisnya. Sebab, naluri seksual tidak akan muncul dan menuntut pemenuhan jika tidak ada stimulus yang merangsangnya. Dengan demikian, kewajiban berjilbab telah menutup salah satu celah yang dapat mengantarkan manusia terjerumus ke dalam perzinaan; sebuah perbuatan menjijikkan yang amat dilarang oleh Islam.

 
Fakta menunjukkan, di negara-negara Barat yang kehidupannya dipenuhi dengan pornografi dan pornoaksi, angka perzinaan dan pemerkosaannya amat mengerikan. Di AS pada tahun 1995, misalnya, angka statistik nasional menunjukkan, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya. Berarti, setiap jamnya 78 wanita diperkosa, atau 1.872 setiap harinya, atau 683.280 setiap tahunnya!24 Realitas ini makin membuktikan kebenaran ayat ini: Dzâlika adnâ an yu'rafna falâ yu'dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu).

Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkatnya pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadapnya lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, dan profesionalismenya serta ketakwaannya. Ini berbeda jika wanita tampil 'terbuka' dan sensual. Penilaian terhadapnya lebih tertuju pada fisiknya. Penampilan seperti itu juga hanya akan menjadikan wanita dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu saja.

 
Walhasil, penutup ayat ini harus menjadi catatan amat penting dalam menyikapi kewajiban jilbab. Wa kânaLlâh Ghafûra Rahîma (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Ini memberikan isyarat, kewajiban berjilbab tersebut merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt. kepada hamba-Nya. Siapa yang tidak mau disayangi-Nya?!

Wallâh a'lam bi ash-shawâb. []

aulia hasanah

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 130
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
    • Sun_Xrevolution
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #1 pada: September 04, 2006, 09:25:16 am »
Kewajiban Berjilbab
(Tafsir QS al-Ahzab [33]: 59)

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.
 
 
Sabab Nuzul
Dikemukakan Said bin Manshur, Saad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: Dulu istri-istri Rasulullah saw. keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab, "Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja." Lalu turunlah ayat ini yang berisi perintah agar mereka berpakaian tertutup supaya berbeda dengan hamba sahaya.1
 
Tafsir Ayat
Allah Swt. berfirman: Yâ ayyuhâ an-Nabiyy qul li azwâjika wa banâtika wa nisâ' al-Mu'mînîn (Hai Nabi, katakanah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin). Khithâb (seruan) ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw.

 
Allah Swt. memerintahkan Nabi saw. untuk menyampaikan suatu ketentuan bagi para Muslimah. Ketentuan yang dibebankan kepada para wanita Mukmin itu adalah: yudnîna 'alayhinna min jalâbîbihinna (hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka).

 
Kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ' (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah.2 Al-Qasimi menggambarkan, ar-ridâ' itu seperti as-sirdâb (terowongan).3 Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-'Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.4 Ada juga yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya.5 Sebagian lainnya memahaminya sebagai mulâ'ah (baju kurung) yang menutupi wanita6 atau al-qamîsh (baju gamis).7

 
Meskipun berbeda-beda, menurut al-Baqai, semua makna yang dimaksud itu tidak salah.8 Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu 'Athiyah ra.:
 
Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?" Rasulullah saw. menjawab, "Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya." (HR Muslim).


Hadis ini, di samping, menunjukkan kewajiban wanita untuk mengenakan jilbab ketika hendak keluar rumah, juga memberikan pengertian jilbab; bahwa yang dimaksud dengan jilbab bukanlah pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan dalam rumah. Sebab, jika disebutkan ada seorang wanita yang tidak memiliki jilbab, tidak mungkin wanita itu tidak memiliki pakaian yang biasa dikenakan dalam rumah. Tentu ia sudah memiliki pakaian, tetapi pakaiannya itu tidak terkategori sebagai jilbab.

 
Kata yudnîna merupakan bentuk mudhâri' dari kata adnâ. Kata adnâ berasal dari kata danâ yang berarti bawah, rendah, atau dekat. Dengan demikian, kata yudnîna bisa diartikan yurkhîna (mengulurkan ke bawah).9 Meskipun kalimat ini berbentuk khabar (berita), ia mengandung makna perintah; bisa pula sebagai jawaban atas perintah sebelumnya.10

Berkaitan dengan gambaran yudnîna 'alayhinna, terdapat perbedaan pendapat di antara para mufassir. Menurut sebagian mufassir, idnâ' al-jilbâb (mengulurkan jilbab) adalah dengan menutupkan jilbab pada kepala dan wajahnya sehingga tidak tampak darinya kecuali hanya satu mata. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Sirrin, Abidah as-Salmani,11 dan as-Sudi.12 Demikian juga dengan al-Jazairi, an-Nasafi, dan al-Baidhawi.13

 
Sebagian lainnya yang menyatakan, jilbab itu diikatkan di atas dahi kemudian ditutupkan pada hidung. Sekalipun kedua matanya terlihat, jilbab itu menutupi dada dan sebagian besar wajahnya. Demikian pendapat Ibnu Abbas dalam riwayat lain dan Qatadah.14Adapun menurut al-Hasan, jilbab itu menutupi separuh wajahnya.15

 
Ada pula yang berpendapat, wajah tidak termasuk bagian yang ditutup dengan jilbab. Menurut Ikrimah, jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya, 16 sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung)17 yang juga diwajibkan (QS an-Nur [24]: 31).

 
Pendapat ini diperkuat dengan hadis Jabir ra. Jabir ra. menceritakan: Dia pernah menghadiri shalat Id bersama Rasulullah saw. Setelah shalat usai, Beliau lewat di depan para wanita. Beliau pun memberikan nasihat dan mengingatkan mereka. Di situ Beliau bersabda, "Bersedakahlah karena kebanyakan dari kalian adalah kayu bakar neraka." Lalu seorang wanita yang duduk di tengah-tengah wanita kaum wanita yang kedua pipinya kehitam-hitaman (saf'â al-khaddayn) bertanya, "Mengapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena kalian banyak mengadu dan ingkar kepada suami." (HR Muslim dan Ahmad).

 
Deskripsi Jabir ra. bahwa kedua pipi wanita yang bertanya kepada Rasulullah saw. kedua pipinya kehitam-hitaman menunjukkan wajah wanita itu tidak tertutup. Jika hadis ini dikaitkan dengan hadis Ummu Athiyah yang mewajibkan wanita mengenakan jilbab saat hendak mengikuti shalat Id, berarti jilbab yang wajib dikenakan itu tidak harus menutup wajah. Sebab, jika pakaian wanita itu bukan jilbab atau penggunaannya tidak benar, tentulah Rasulullah saw. akan menegur wanita itu dan melarangnya mengikuti shalat Id. Di samping hadis ini, terdapat banyak riwayat yang menceritakan adanya para wanita yang membuka wajahnya dalam kehidupan umum.

 
Penafsiran ini juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS an-Nur (24) ayat 31: Wa lâ yubdîna zînatahunna illâ mâ zhahara minhâ (dan janganlah mereka menampakkan kecuali yang biasa tampak daripadanya). Menurut Ibnu Abbas, yang biasa tampak adalah wajah dan dua telapak tangan. Ini adalah pendapat yang masyhur menurut jumhur ulama.18Pendapat yang sama juga dikemukakan Ibnu Umar, Atha', Ikrimah, Said bin Jubair, Abu asy-Sya'tsa', adh-Dhuhak, Ibrahim an-Nakhai,19 dan al-Auza'i.20 Demikian juga pendapat ath-Thabari, al-Jashash, dan Ibnu al-'Arabi.21

 
Meskipun ada perbedaan pendapat tentang wajah dan telapak tangan, para mufassir sepakat bahwa jilbab yang dikenakan itu harus bisa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk di dalamnya telapak kaki. Hal ini didasarkan pada Hadis Nabi saw.:
 
"Siapa saja yang menyeret bajunya lantaran angkuh, Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat." Ummu Salamah bertanya, "Lalu bagaimana dengan ujung-ujung pakaian kami?" Beliau menjawab, "Turunkanlah satu jengkal." Ummu Salamah bertanya lagi, "Kalau begitu, telapak kakinya tersingkap." Lalu Rasulullah saw. bersabda lagi, "Turunkanlah satu hasta dan jangan lebih dari itu." (HR at-Tirmidzi).


Berdasarkan hadis ini, jilbab yang diulurkan dari atas hingga bawah harus bisa menutupi dua telapak kaki wanita. Dalam hal ini, para wanita tidak perlu takut jilbabnya menjadi najis jika terkena tanah yang najis. Sebab, jika itu terjadi, tanah yang dilewati berikutnya akan mensucikannya. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu al-Walad Abdurrahman bin Auf; ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah ra. tentang ujung pakainnya yang panjang dan digunakan berjalan di tempat yang kotor. Ummu Salamah menjawab bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Yuthahhiruhu mâ ba'dahu (Itu disucikan oleh apa yang sesudahnya).

 
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: Dzâlika adnâ an yu'rafna falâ yu'dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu). Maksud kata dzâlika adalah ketentuan pemakaian jilbab bagi wanita, sedangkan adnâ berarti aqrab (lebih dekat).22 Yang dimaksud dengan lebih mudah dikenal itu bukan dalam hal siapanya, namun apa statusnya. Dengan jilbab, seorang wanita merdeka lebih mudah dikenali dan dibedakan dengan budak.23 Karena diketahui sebagai wanita merdeka, mereka pun tidak diganggu dan disakiti.

 
Patut dicatat, hal itu bukanlah 'illat (sebab disyariatkannya hukum) bagi kewajiban jilbab yang berimplikasi pada terjadinya perubahan hukum jika illat-nya tidak ada. Itu hanyalah hikmah (hasil yang didapat dari penerapan hukum). Artinya, kewajiban berjilbab, baik bisa membuat wanita Mukmin lebih dikenal atau tidak, tidaklah berubah.

 
Ayat ini ditutup dengan ungkapan yang amat menenteramkan hati: Wa kâna Allâh Ghafûra Rahîma (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bertobat kepada-Nya jika telah terlanjur melakukan perbuatan dosa dan tidak menaati aturan-Nya.
 
 
Mendatangkan Kebaikan

 
Ayat ini secara jelas memberikan ketentuan tentang pakaian yang wajib dikenakan wanita Muslimah. Pakaian tersebut adalah jilbab yang menutup seluruh tubuhnya. Bagi para wanita, mereka tak boleh merasa diperlakukan diskriminatif sebagaimana kerap diteriakkan oleh pengajur feminisme. Faktanya, memang terdapat perbedaan mencolok antara tubuh wanita dan tubuh laki-laki. Oleh karenanya, wajar jika ketentuan terhadapnya pun berbeda. Keadilan tak selalu harus sama. Jika memang faktanya memang berbeda, solusi terhadapnya pun juga tak harus sama.

 
Penggunaan jilbab dalam kehidupan umum akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan tubuh yang tertutup jilbab, kehadiran wanita jelas tidak akan membangkitkan birahi lawan jenisnya. Sebab, naluri seksual tidak akan muncul dan menuntut pemenuhan jika tidak ada stimulus yang merangsangnya. Dengan demikian, kewajiban berjilbab telah menutup salah satu celah yang dapat mengantarkan manusia terjerumus ke dalam perzinaan; sebuah perbuatan menjijikkan yang amat dilarang oleh Islam.

 
Fakta menunjukkan, di negara-negara Barat yang kehidupannya dipenuhi dengan pornografi dan pornoaksi, angka perzinaan dan pemerkosaannya amat mengerikan. Di AS pada tahun 1995, misalnya, angka statistik nasional menunjukkan, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya. Berarti, setiap jamnya 78 wanita diperkosa, atau 1.872 setiap harinya, atau 683.280 setiap tahunnya!24 Realitas ini makin membuktikan kebenaran ayat ini: Dzâlika adnâ an yu'rafna falâ yu'dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu).

Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkatnya pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadapnya lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, dan profesionalismenya serta ketakwaannya. Ini berbeda jika wanita tampil 'terbuka' dan sensual. Penilaian terhadapnya lebih tertuju pada fisiknya. Penampilan seperti itu juga hanya akan menjadikan wanita dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu saja.

 
Walhasil, penutup ayat ini harus menjadi catatan amat penting dalam menyikapi kewajiban jilbab. Wa kânaLlâh Ghafûra Rahîma (Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Ini memberikan isyarat, kewajiban berjilbab tersebut merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt. kepada hamba-Nya. Siapa yang tidak mau disayangi-Nya?!

Wallâh a'lam bi ash-shawâb. []

subhanallah chandra, artikelnya bagus banget  >:D< >:D<. saya anjurkan deh buat semua dudungers untuk baca artikel ini. :cool: :cool:

chochoby

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #2 pada: September 06, 2006, 10:21:51 am »
ass,,,allahuakbar,,,keren bgd,,,artikelna ngbantu bgd buat dee,,,dee jadi makin ngerti ama arti jilbab yg sebenerna,,,thx,, yak,,wss =D>

reezckhy

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 150
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • "Indonesia munafik..."
    • Lihat Profil
    • FS ajah...
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #3 pada: September 08, 2006, 10:54:48 pm »
@chandra

artikelnya bagus tuh.... =D> :great:

aq suka banget walaupun aq laki...

kl aq forward k tmenQ gmn..?? boleh g'...?? aq g' maksa tp mohon d balas..

thx >:D<

HELL-TOBAT

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.215
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • Another Day.....Another Way.....Another Spirit
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #4 pada: September 13, 2006, 10:59:04 am »
kl aq forward k tmenQ gmn..?? boleh g'...?? aq g' maksa tp mohon d balas..

insya Allah gpp

menyebarkan kebenaran akan lebih bermanfaat
namun yg menulis kan  Rokhmat S. Labib, M.E.I.
mau ijin ma dia???
 :D

dewidee

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 212
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Wanita
  • ..wardatiy; asyuuqu ilaik..
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #5 pada: September 15, 2006, 11:33:13 am »
kl aq forward k tmenQ gmn..?? boleh g'...?? aq g' maksa tp mohon d balas..

insya Allah gpp

menyebarkan kebenaran akan lebih bermanfaat
namun yg menulis kan  Rokhmat S. Labib, M.E.I.
mau ijin ma dia???
 :D

iya bener, sbarin aja ke temen-temen cewek di skul or sodara di rumah. insya Allah reezckhy akan dapat pahala sebagaimana ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I. yang nulis and chandra yang postingin. trus kalo reezckhy mau, insya Allah tiap Ahad ada kajian tafsir yang diisi oleh ust. Labib jam 9-11. tapi tempatnya di jakarta  :D

reezckhy

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 150
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • "Indonesia munafik..."
    • Lihat Profil
    • FS ajah...
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #6 pada: September 16, 2006, 11:59:42 am »
Amiiinnnn.....
aq br ngasih ke 1 ce negh...:D

4n1e

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 117
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Wanita
  • PeaCe.....
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #7 pada: Januari 25, 2007, 02:55:30 pm »

artikel yg bagus ya ... :great:

tisa

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 338
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Wanita
  • alquran my way
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #8 pada: April 04, 2007, 07:59:52 pm »
@chandra

artikelnya bagus tuh.... =D> :great:

aq suka banget walaupun aq laki...

kl aq forward k tmenQ gmn..?? boleh g'...?? aq g' maksa tp mohon d balas..

thx >:D<
insya allah enggak apa apa,kan amar ma'ruf nahi munkar?
seperti yang ada di surat al ashr

faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #9 pada: April 05, 2007, 12:25:58 am »
Mudah2an saja makin banyak saudari kita yg muslimah sadar dan mendapat hidayah untuk segera melaksanakan syariat ini, tanpa banyak alasan untuk menunda2nya.

mBell

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 974
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Selamat Tahun Baru Hijriyah => mBell & Keluarga
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #10 pada: Mei 03, 2007, 04:03:26 pm »
Amin deh moga ajah bisa berkelanjutan :D dan artikel yang kelaur selalu bermutu

syokron yah akhi apa ukhty neh :D afwan aklo ane salah :) < maklum anak baru >

ida_aza

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 42
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Belajar jadi akhwat yg bener :D
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #11 pada: Agustus 07, 2007, 11:51:48 am »
subahanallahh
baguss bgtt... artikelnyaaa :cool: :cool:

Oh yaa..
aq user baru nehh...salam kenal semuanya yaa
"assalammualaikum wr..wb "
 ;D

cinta_Allah

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 353
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #12 pada: Agustus 07, 2007, 08:47:15 pm »
 =D> =D> =D>
subhanallaaahh....

ravi_dude

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.182
  • Reputasi: 24
  • Jenis kelamin: Pria
  • ada apaa??
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #13 pada: Agustus 15, 2007, 10:09:06 am »
artikelnya bagus, oh iy ni ada tambahan, baru dapet jg smoga bermanfaat
artiin sendiri yah  :D isinya insyaallah bagus


"Why do Muslim women have to cover their heads?" This
question is one which is asked by Muslim and non-Muslim alike.
For many women it is the truest test of being a Muslim.
 
The answer to the question is very simple - Muslim women
observe HIJAB (covering the head and the body) because Allah
has told them to do so.
 
"O Prophet, tell your wives and daughters and the believing
women to draw their outer garments around them (when they go
out or are among men). That is better in order that they may
be known (to be Muslims) and not annoyed..." (Qur'an 33:59)
 
Other secondary reasons include the requirement for modesty in
both men and women. Both will then be evaluated for
intelligence and skills instead of looks and sexuality. An
Iranian school girl is quoted as saying, "We want to stop men
from treating us like sex objects, as they have always done.
We want them to ignore our appearance and to be attentive to
our personalities and mind. We want them to take us seriously
and treat us as equals and not just chase us around for our
bodies and physical looks."
 
A Muslim woman who covers her head is making a statement about
her identity. Anyone who sees her will know that she is a
Muslim and has a good moral character. Many Muslim women who
cover are filled with dignity and self esteem; they are
pleased to be identified as a Muslim woman. As a chaste,
modest, pure woman, she does not want her sexuality to enter
into interactions with men in the smallest degree. A woman
who covers herself is concealing her sexuality but allowing
her femininity to be brought out.
 
The question of hijab for Muslim women has been a controversy
for centuries and will probably continue for many more. Some
learned people do not consider the subject open to discussion
and consider that covering the face is required, while a
majority are of the opinion that it is not required. A middle
line position is taken by some who claim that the instructions
are vague and open to individual discretion depending on the
situation. The wives of the Prophet (S) were required to
cover their faces so that men would not think of them in
sexual terms since they were the "Mothers of the Believers,"
but this requirement was not extended to other women.
 
The word "hijab" comes from the Arabic word "hajaba" meaning
to hide from view or conceal. In the present time, the
context of hijab is the modest covering of a Muslim woman.
The question now is what is the extent of the covering?
 
The Qur'an says: "Say to the believing man that they should
lower their gaze and guard their modesty; that will make for
greater purity for them; and Allah is well acquainted with all
that they do.
 
"And say to the believing women that they should lower their
gaze and guard their modesty; and that they should not display
their beauty and ornaments except what must ordinarily appear
thereof; that they should draw their veils over their bosoms
and not display their beauty except to their husbands..."
(Qur'an 24:30-31)
 
These verses from the Qur'an contain two main injunctions: (1)
A woman should not show her beauty or adornments except what
appears by uncontrolled factors such as the wind blowing her
clothes, and (2) the head covers should be drawn so as to
cover the hair, the neck and the bosom.
 
Islam has no fixed standard as to the style of dress or type
of clothing that Muslims must wear. However, some
requirements must be met. The first of these requirements is
the parts of the body which must be covered.
 
Islam has two sources for guidance and rulings: first, the
Qur'an, the revealed word of Allah and secondly, the Hadith or
the traditions of the Prophet Muhammad (S) who was chosen by
Allah to be the role model for mankind. The following is a
Tradition of the Prophet:
 
"Ayesha (R) reported that Asmaa the daughter of Abu Bakr (R)
came to the Messenger of Allah (S) while wearing thin
clothing. He approached her and said: 'O Asmaa! When a girl
reaches the menstrual age, it is not proper that anything
should remain exposed except this and this. He pointed to the
face and hands." (Abu Dawood)
 
The second requirement is looseness. The clothing must be
loose enough so as not to describe the shape of the woman's
body. One desirable way to hide the shape of the body is to
wear a cloak over other clothes. However, if the clothing is
loose enough, an outer garment is not necessary.
 
Thickness is the third requirement. The clothing must be
thick enough so as not to show the color of the skin it covers
or the shape of the body. The Prophet Muhammad (S) stated that
in later generations of his ummah there would be "women who
would be dressed but naked and on top of their heads (what
looks like) camel humps. Curse them for they are truly
cursed." (Muslim)
 
Another requirement is an over-all dignified appearance. The
clothing should not attract men's attention to the woman. It
should not be shiny and flashy so that everyone notices the
dress and the woman.
 
In addition there are other requirements:
 
(1) Women must not dress so as to appear as men. "Ibn Abbas
narrated: 'The Prophet (S) cursed the men who appear like
women and the women who appear like men.'" (Bukhari)
 
(2) Women should not dress in a way similar to the
unbelievers.
 
(3) The clothing should be modest, not excessively fancy and
also not excessively ragged to gain others admiration or
sympathy.
 
Often forgotten is the fact that modern Western dress is a new
invention. Looking at the clothing of women as recently as
seventy years ago, we see clothing similar to hijab. These
active and hard-working women of the West were not inhibited
by their clothing which consisted of long, full dresses and
various types of head covering. Muslim women who wear hijab
do not find it impractical or interfering with their
activities in all levels and walks of life.
 
Hijab is not merely a covering dress but more importantly, it
is behavior, manners, speech and appearance in public. Dress
is only one facet of the total being.
 
The basic requirement of the Muslim woman's dress apply to the
Muslim man's clothing with the difference being mainly in
degree. Modesty requires that the area between the navel and
the knee be covered in front of all people except the wife.
The clothing of men should not be like the dress of women, nor
should it be tight or provocative. A Muslim should dress to
show his identity as a Muslim. Men are not allowed to wear
gold or silk. However, both are allowed for women.
 
For both men and women, clothing requirements are not meant to
be a restriction but rather a way in which society will
function in a proper, Islamic manner.

Zaskia

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #14 pada: Oktober 17, 2007, 01:36:23 am »
finallly...nemu juga forum yang kaya gini...
nanya dong...

apa jilbab itu kewajiban ya?trus klo kita belum bisa pake jilbab gimana?cos gw lihat,banyak wanita yang pake jilbab tapi kelakuannya 0...apa itu g memalukan orang2 yg pake jilbab...apa bener,klo mo pake jilbab,kita harus membenahi sikap dulu sebelum memakainya...dan gw juga sering lihat wanita sekarang banyak yang buka jilbab...itu yang bikin ragu...apalagi gw pengen jadi pramugari dan banyak cita2 yang ingin gw capai,tidak diharapkan pakai jilbab...khususnya dibidang entertain...apa gw berdosa dalam masalah ini...lagipula g semua orang berjilbab dipastikan baik semua... ;)
gimana lo menghadapi masalah kayak gini...????